Keesokan harinya, Lynx dan Jelita berjalan santai di sepanjang jalan utama Kota Zhurong. Meskipun kota ini lebih besar dari Kota Huoling, suasananya tetap terasa akrab dengan hiruk-pikuk para pedagang yang berteriak menawarkan dagangan mereka, aroma makanan yang menggugah selera, serta suara dentingan logam dari bengkel pandai besi yang tak pernah sepi.

Saat mereka melewati alun-alun kota, perhatian mereka tertarik oleh kerumunan besar yang berkumpul di sebuah lapangan terbuka. Dari kejauhan, terdengar sorakan dan seruan antusias dari orang-orang yang menyaksikan sesuatu.

"Ada apa di sana?" Jelita bertanya dengan nada ingin tahu.

"Kita lihat saja," sahut Lynx.

Mereka melangkah mendekat dan segera menyadari bahwa di tengah lapangan terdapat sebuah arena yang sengaja disediakan untuk pertarungan antar-peserta. Tempat ini memang terkenal sebagai ajang unjuk kemampuan bagi para ahli pedang maupun praktisi bela diri di Kota Zhurong.

Di tengah arena, seorang pria bertubuh kekar berdiri dengan angkuh di atas panggung batu, sementara lawannya tergeletak tak berdaya di tanah. Pria itu menyeringai penuh kemenangan, lalu mengangkat suaranya agar terdengar oleh semua orang.

"Siapa lagi yang ingin mencoba keberuntungan mereka melawanku? Aku, Jiang Fei, Forging Qi tingkat enam, menantang siapa pun yang berani! Tapi ingat, ranah maksimal harus setara denganku!"

Sorakan terdengar dari para penonton, beberapa mendukungnya, sementara yang lain menunggu apakah ada penantang baru.

Tak lama, seorang pria muda melangkah maju dan naik ke arena. Dari posturnya, dia tampak percaya diri, namun pertarungan berlangsung singkat. Jiang Fei dengan mudah mengalahkannya, mendorongnya keluar dari panggung dengan satu serangan telak.

"Hahaha! Begitu saja?" Jiang Fei tertawa keras. "Apakah tidak ada lagi yang lebih kuat di sini?"

Saat itu, seorang wanita bertubuh ramping dengan rambut panjang terikat tinggi melangkah ke atas arena. Dia mengenakan pakaian sederhana berwarna biru dan menggunakan cadar di wajahnya, namun ada aura percaya diri dalam sorot matanya.

"Aku yang akan menantangmu," katanya dengan suara tenang.

Kerumunan mendadak riuh. Seseorang di antara mereka tertawa meremehkan. "Kau hanya Forging Qi tingkat lima! Berani sekali menantang Jiang Fei!"

"Hahaha! Kau pikir bisa menang melawanku?" Jiang Fei menyeringai, merasa tidak perlu bersungguh-sungguh menghadapi wanita itu.

"Tidak perlu banyak bicara, jika kamu memang pria sejati, hadapilah aku." Kata wanita tersebut sambil tertawa pelan.

Lynx merasa tidak asing dengan suara wanita tersebut. Tubuhnya terasa merinding dan bersemangat. Segera dengan penuh harapan, dia menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk melihat wajah di balik cadar. Setelah melihatnya, Lynx mencoba melihat kebagian lain dari tubuh wanita itu untuk memastikan. Lynx tersenyum. "Ternyata memang dia," batinnya. Lynx menunggu dan ingin melihat pertarungan ini berlangsung seperti apa.

Saat pertarungan dimulai, Jiang Fei menyadari bahwa dia telah meremehkan lawannya. Wanita itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, meluncur di antara celah serangan Jiang Fei seperti angin. Setiap tebasan Jiang Fei yang kuat selalu berakhir dengan memotong udara kosong.

"Apa?!" Jiang Fei mengerutkan kening.

Sebelum dia bisa mengubah strateginya, wanita itu tiba-tiba menghilang dari pandangan sekejap dan muncul di sisi belakangnya. Dengan satu gerakan cepat, dia melancarkan tebasan mendatar ke arah pedang Jiang Fei. Sebuah suara nyaring terdengar, dan pedang Jiang Fei terlempar ke udara!

Dalam sekejap, wanita itu mengayunkan kakinya dan menendang dada Jiang Fei, mendorongnya keluar dari arena dengan keras. Jiang Fei terjerembap di tanah, wajahnya pucat dan matanya membelalak tidak percaya.

"Sekarang katakan, siapa yang lebih kuat di antara kita?" kata wanita itu dengan tenang.

Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya seseorang di antara penonton berseru, "Itu Qian Lanyi! Jagoan pedang wanita!"

"Apakah kamu yakin? Bukankah Qian Lanyi yang dikatakan sering menangkap para perampok?"

"Tentu saja! Ciri-cirinya sangat sesuai, meski tingkatannya lebih rendah, dia selalu berhasil mengalahkan orang-orang yang memiliki ranah di atasnya. Siapa yang berani menantangnya sekarang?"

Para penonton semakin banyak yang berkumpul karena mendengar nama Qian Lanyi, wanita misterius yang selama ini sering diceritakan sebagai penolong warga Zhurong tetapi jarang memperlihatkan diri.

Di atas panggung, Qian Lanyi menatap sekeliling dengan tenang. "Jika masih ada yang ingin mencoba melawanku, silakan maju," tantangnya.

Namun, tidak ada satu pun yang bergerak. Orang-orang mengenalnya sebagai pendekar yang tangguh, dan setelah melihat bagaimana dia mengalahkan Jiang Fei dengan mudah, tak ada yang cukup berani untuk menantangnya.

Saat itu, Lynx tersenyum kecil. Dia lalu menarik kain penutup wajah dari balik pakaiannya dan mengenakannya. "Aku akan melawannya." teriaknya sambil melangkah maju.

"Xiao Ling, apa yang sedang kamu rencanakan?" batin Jelita penasaran.

Kerumunan kembali bergemuruh.

"Hah?! Siapa dia? Apa tidak salah lihat? Ranahnya cuma Forging Qi tingkat dua!"

"Hahaha! Dia sudah bosan hidup rupanya!"

"Bahkan Jiang Fei yang ranah Forging Qi tingkat enam kalah, sekarang ada bocah sok berani yang cuma Forging Qi tingkat dua ingin maju? Ini pasti lelucon!"

Di atas arena, Qian Lanyi menatap pria bertopeng itu dengan sinis. "Kau yakin tidak salah tempat? Ini arena pertarungan, bukan tempat untuk mencari masalah."

Lynx hanya tersenyum tipis di balik kain penutup wajahnya. "Bukankah kau bilang siapa pun boleh menantangmu?"

"Tentu saja, tapi aku tidak ingin dituduh membully anak kecil." Qian Lanyi tertawa kecil. "Katakan saja kau ingin menarik perhatian orang banyak, aku tidak akan keberatan."

Penonton kembali tertawa mendengar ejekan itu. Namun, alih-alih tersinggung, Lynx justru melangkah ke posisi bertarung dengan santai.

"Jika kau memang sehebat yang mereka katakan, tunjukkan padaku," ujarnya tenang.

Qian Lanyi menatapnya sejenak, lalu menghela napas, seolah benar-benar merasa malas menghadapi Lynx. Dengan gerakan santai, ia menyarungkan kembali pedangnya.

"Aku tidak perlu pedang untuk menghadapi seseorang sepertimu," katanya angkuh. "Kuharap setelah ini kau sadar bahwa kau sudah salah menilai kekuatanmu."

Sorakan dari para penonton kembali menggema.

"Dia bahkan tidak perlu pedang! Hahaha! Pemuda bertopeng itu pasti akan dipermalukan!"

"Lebih baik dia mundur saja sebelum menanggung malu!"

Namun, Lynx tetap berdiri tenang, bahkan ekspresinya tampak semakin santai, seolah semua cemoohan itu tak ada artinya baginya.

Qian Lanyi mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya mulai bergetar halus, dan hawa qi perlahan mengalir di sekelilingnya.

"Baiklah, aku akan membantumu sadar dengan satu serangan saja," ujarnya.

Dalam sekejap, dia menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, lengannya melesat dalam gerakan memutar yang sempurna, mengerahkan teknik Crimson Phoenix Palm. Udara di sekitarnya berdesir kencang, hawa panas membubung seiring gerakan telapak tangannya, menciptakan tekanan mengerikan yang membuat pasir dan debu beterbangan di sekeliling mereka.

Qian Lanyi merasa dengan jurus ini yang sudah dia kurangi kekuatannya, sudah cukup untuk membuat pemuda dihadapannya tidak sadarkan diri untuk beberapa hari. Ini akan memberikan efek jera bagi yang lainnya agar tidak mencoba untuk melakukan hal yang sama.

Namun, bukannya merasakan sentuhan telapak tangannya mengenai wajah lawannya, yang ia temui hanyalah udara kosong. Lynx sudah lenyap dari tempatnya berdiri!

"Apa—?!"

Dalam sepersekian detik, sebelum Qian Lanyi sempat bereaksi, sebuah lengan terulur cepat ke arahnya. Dengan gerakan yang begitu santai, Lynx telah merangkul pinggangnya dengan satu tangan, menariknya sedikit ke depan dengan ringan.

Mata Qian Lanyi membelalak kaget.

"Lepaskan!"

Dengan reflek cepat, dia melesat mundur sejauh beberapa langkah, wajahnya memerah menahan amarah.

Penonton yang awalnya menertawakan Lynx kini mendadak terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

"Luar biasa! Dia bisa menghindari serangan itu?! Dan bahkan..."

"Dia berani merangkul Qian Lanyi?! Orang itu sudah bosan hidup!"

Sementara itu, Qian Lanyi menatap Lynx dengan penuh kemarahan. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, dia tidak lagi menganggap pria bertopeng ini sebagai sekadar lawan yang tidak berarti.

"Aku berubah pikiran," katanya dengan suara dingin. "Aku akan memastikan kau menyesal telah berani mempermainkanku."

Tatapan matanya berubah tajam. Kali ini, dia bersiap untuk lebih serius.

